PERCAYALAH KEPADA TUHAN (Amsal 3:5-8)

 


Do: A                                                                                               By: Calvin M Siregar

Intro: Amaj7 CmMaj7 D E

           Amaj7 C#mMaj7 D E A E

 

AMaj7             C#mMaj7            F#m         Em A     DMaj7            C#m  F#m

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar

Bm                                E

Pada pengertianmu sendiri

AMaj7  C#mMaj7      F#m Em A  D       C#m F#m      Bm           E

akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu

Reff

D                                   C#m       Bm  E             A          D             C#m F#m       Bm         E         

Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan

 D                   E                                               A

Itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu

 

Continue reading PERCAYALAH KEPADA TUHAN (Amsal 3:5-8)

PERANG BERNUANSA AGAMA DALAM KERUSUHAN POSO 1998-2000 SERTA DAMPAK OIKUMENE DALAM JALUR PERDAMAIAN

 

 


Latar Belakang

Ketika Indonesia memasuki zona baru yaitu era reformasi tahun yang dimana ditandai juga dengan jatuh rezim orde baru pimpinan Soeharto. Euforia ini memasuki babak baru dimana rakyat Indonesia bebas dalam berpendapat, bebas dalam berpolitik dan pemerintahan lebih bersifat demokratis. Era ini juga berdampak bagi semua wilayah Indonesia terlebih khusus wilayah poso.

Namun awal era reformasi dimulai tidak diselaraskan dengan kehidupan yang tentram dan damai. Kisah kerusuhan poso membuka babak baru yang menunjukan bahwa dalam kebebasan mampu menimbulkan beberapa konflik baik secara pribadi, kelompok, maupun dalam lingkup etnis dan agama.

Kerusuhan poso terjadi disaat-saat yang genting dimana awal mulanya pertikaian mengenai kesenjangan social, dimana para pendatang yang mulai menguasai system kehidupan di tanah Poso dan pergerseran kekuasaan mulai tercium sehingga banyak menimbulkan protes yang berbaur rasa iri. Dalam polemic ini juga ada masalah-masalah yang lain salah satunya karena politik namun lambat laun aroma politik mulai hilang dan posisi agama menjadi senjata paling mematikan.

Penduduk Poso asli yang mayoritas beragama Kristen merasa mulai tersingkirkan karena kepemimpinan dari elit Islam sehingga pertikaian mulai muncul Islam yang mulai menguasai dan Kristen semakin tersingkirkan. Polemic ini yang menimbulkan kerusuhan besar di Poso mulai dari Tahun 1998-2000 antara kubu Islam dan Muslim dan hasil perang ini memakan banyaknya korban.

Dalam makalah ini penulis akan membahas bagaimana kisah tragis ini dapat terjadi di tengah-tengah masyarakat Poso yang sebelumnya menjujung tinggi toleransi dan pluralitas dan juga bagaimana pandangan mengenai konflik agama ini serta melihat bagaimana posisi oikumene sebagai pendamai dan pemersatu.

Historis Kerusuhan Poso

Pada tahun 1998 Indonesia mengalami perubahan besar-besaran dari orde baru menuju masa reformasi. Masa-masa ini disebut dengan masa kelam karena hampir di beberapa wilayah terjadi konflik, misalnya konflik antar agama di poso dan ambon, perang sampit dan masih banyak lagi pertikaian-pertikaian di beberapa daerah.

Poso merupakan wilayah Sulawesi tengah yang mana penduduk aslinya mayaoritas beragama Kristen sedangkan wilayah kota poso mayoritas Islam dan kebanyakan adalah pendatang. Wilayah poso di dominasi oleh dua agama besar yaitu agama Islam dan Kristen. Sebab itu dalam system politik dalam kekuasaan pemerintaah di sana dilakukan system power sharing atau rotasi dalam pemerintahan yang dimana tiap periode pergantian bupati itu berimbang Kristen-Islam saling bergantian.[1] Berikut table periode Bupati kabupaten Poso

Nama Bupati

Periode

Agama

Drs. Galib Lahasido

1967-1973

Islam

Drs. R.P.M Koeswandi

1973-1984

Kristen

Soegiono

1973-1984

Islam

Drs. J.W Sarapang

1988-1989

Kristen

Arief Patanga

1989-1999

Islam

Drs. Abdul Muin Pusadan

1999-2004

Islam

Sumber: Muin, H. A

Dari table ini memang system rotasi kepemimpinan berdasarkan agama sudah terjadi lama dan juga adalah bukti toleran dalam beragama masih sangat terjalin bagus. Namun memasuki era demokrasi di terapkan dan power sharing tidak lagi berlaku sehingga aturannya siapa yang memiliki pendukung lebih banyak maka kelompok itulah yang berkuasa.[2]

Pada masa pimilihan berlangsung dimana kelompok Islam ada beberapa nama yang diusung baik dari kelompok Islam maupun Kristen dan yang lolos seleksi yaitu Abdul Muin Pusadan, Mas’ud Kasim (kubu islam) dan Eddy Bungkundapu (kubu Kristen). Pada pemilihan Bupati yang berlangsung  30 Oktober 1999 dimana Abdul Muin yang menjadi terpilih setalah mengungguli kedua pesaingnya termasuk dari kubu Kristen.

Momen ini yang menjadi suatu masalah dan semenjak pemilihan dan pelantikan poso kembali memanas dimana power sharing menjadi tuntutan pokok dalam mekenisme pembagian kekuasaan serdasarkan agama di poso. Pada saat poso mulai semakin memanas kelompok Kristen meminta agar mengangkat Sekwilda (Sekertaris Wilayah Daerah) dari kalangan Kristen namun, Bupati yang baru terpilih (kalangan Islam) malah mengangkat dari kubu Islam. Inilah yang membuat ketidakpuasan dari kubu Kristen, sehingga permasalahan semakin besar dan aroma konflik semakin tercium.[3] Permasalahan semakin memanas dimana kaum Kristen menganggap biokrasi pemerintahan yang baru tidak memenuhi dan mencerminkan aspirasi kelompok Kristen dan hal ini di anggap diskriminasi dari pemerintahan yang berbaur dangan Islam. Namun disisi lain kaum Muslim menganggap bahwa biokrasi yang telah dibentuk tidak boleh di ubah-ubah sebab biokrasi yang di bentuk sudah aspiratif.[4]

Pecahnya Perang Poso

Sebelum masalah politik yang memanas tahun 1999 terjadi, sebelumnya sudah terjadi pertikaian pada tanggal 24 Desember 1998 antara anak muda yang merunjuk pada sentiment agama antara Kristen dan Islam sekaligus dilakukan penghancuran tempat-tempat minum dan tempat berkumpulnya orang-orang non Muslim khususnya kelompok Kristen. Kejadian ini juga terjadi bertepatan saat hari raya natal dan bulan puasa yang bertepatan dan juga bertepatan dengan situasi yang masih memanas dengan isu-isu pemilihan bupati di Poso.[5] Berdasarkan system yang sebelumnya digunakan power sharing maka pertikaian ini dijadikan alasan dengan memobilisasi massa menurut agama untuk masuk dalam dukungan politik. Sehingga mulai dari pertikaian antar kaum muda dan masuk sampai pada politik dan berujung pada konflik agama. Dalam konflik ini kubu Islam membuat basis yang menamai diri mereka kelompok Putih, sedangkan Kristen adalah Kelompok Merah. Selama konflik terjadi semua tuntutan ialah mengenai kekuasaan politik namun nuansa politik mulai pudar memasuki tahun 2000 dimana dari konflik non ralistik berubah menjadi konflik bernuansa SARA, dimana konflik saudara ini melibatkan idiologi agama dan etnis.

Konflik ini seperti perang suci dimana kedua bela pihak masing-masing mempertahankan idiologinya dan memperkuat strukrut kelompoknya sehingga masing-masing kelompok memandang ini sebagai perang suci agama. Dimana Islam menganggap ini adalah perang Jihad begitupun dengan Kristen menganggap ini perang Salib sehingga hal ini membuat perang yang berkepanjangan dan berlarut-larut. Konflik ini terjadi selama beberapa periode dimana perang terjadi periode ketiga adalag periode yang paling ganas karena di periode sebelumnya masih berperang memakai alat-alat tradisional dan juga senjata rakitan namun periode ketiga sudah memakai senjata api dan juga bom.[6]

Pertikaian ini banyak memakan korban terutama kaum pria yang mengikuti perang namun takkala juga korban tersebut wanita atau anak-anak, karena pada saat perang orang-orang tidak memandang siapa korbannya, jikalau dia berbeda agama maka akan di eksekusi, baik dari sisi Islam maupun Kristen. Tak banyak kaum wanita harus menerima kenyataan harus menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim tanpa seorang bapak. Selain itu banyak juga rumah-rumah yang dijadikan sasaran. Dari kaum Kristen banyak kehilangan gedung Gereja khususnya di dareha kota. Sedangkan kaum Muslim kehilangan Mesjid, dan juga tempat pesantran yang di hancurkan oleh Kelompok merah atau Laskar Kristus.

 

 

A.    Pengaruh Agama Terhadap Kerusuhan Poso

Konflik berdarah di Poso banyak menghasilak kerugian, konflik ini juga menandakan bahwa Indonesia masih jauh dari kata persaudaran baik segi etnis maupun agama. Kerusuhan Poso juga melibatkan agama bahkan jika melihat kembali historis kerusuhan, perang tersebut menjadi perang agama karena perang tersebut di mobilisasi oleh dua agama besar yakni Islam dan Kristen. Lalu bagaimana pengaruh agama dalam kerusuhan di Poso.

Agama sangat berperan dalam konflik yang terjadi di Poso, perang ini juga digerakan oleh agama, sehingga tidaklah salah konlifk beradarah ini dikatakan konflik agama. Pada saat konflik terjadi, baik agama Kristen maupun Islam masing-masing menganggap berada di posisi benar. Masing-masing mempertahankan kebenarannya. Walaupun ini bersifatnya politik namun agama dipakai sebagai jalan yang munjur dan efektif  sebagai perekat dalam memperluas permasalahan.[7]

Peran Agama Kristen & Islam dalam Kerusuhan

Jika melihat agama Kristen, ini bukan saja berbicara keyakinan namun juga berbicara ormas ataupun kubu dimana gerakan Kristen di poso disebut dengan lascar Kristus (kelelawar hitam) yang menjadi motor serang agama kubu nasrani dimana isunya mereka dipimpin oleh Tibo cs. Agama dan Islam adalah Jihad dan banyak kalangan radikalisme termasuk kalangan FPI.

Melihat bagaimana perang yang begitu besar, dapat juga kita menymak bahwa agama sangat berperan penting termasuk memobilisasi perang tersebut. Peran ini di buktikan dimana adanya doktrin yang tidak sesuai untuk melakukan penyerangan, beberapa kutipan dalam Kitab Suci di jadikan untuk melancarkan peperangan. Terkadang doktrin ini sangat berbahaya karena lewat doktrin, hasrat untuk melakukan perang dengan tujuan pembelaan agama semakin membara.

Disisi lain tidak hanya doktrin namun perang dari petinggi-petinggi agama sendiri juga ikut mendukung dalam perang tersebut. Walaupun tidak semua orang-orang penting dalam agama ikut serta mendorong untuk perang namun di beberapa daerah sekitar poso ikut mendukung hal tersebut. Hal ini sesuai dengan kesaksian beberapa orang yang ikut berperang dimana sebelum mereka berperang, mereka di doakan terlebih dahulu oleh seorang petinggi agama, bahkan mereka mendapat motivasi tinggi untuk pulang membawa kemenangan dalam perang. “Kebanyakan orang-orang ini adalah petinggi-petinggi agama yang juga ikut serta dalam dukungan politik”.[8]

 

B.     Dampak Oikumene Sebagai Jembatan Perdamaian

Pecahnya perang Poso menimbulkan banyak kerugian besar, banyak juga korban jiwa yang berjatuhan dimana juga warga-warga banyak yang harus mengungsi banyak bangunan baik fasilitas pribadi, gereja, masjid dan fasilitas umum menjadi amukan. Selain itu penjarahan dan pelecehan seksual ikut terjadi.

Banyak usaha yang dilakukan untuk menciptakan perdamaian baik dari sisi pemerintah maupun sisi tokoh masyarakat dan agama itulah yang disebut dengan gerakan oikumenis. Namun memang perlu di akui rasa benci dan balas dendam yang masih terpendam membuat beberapa usaha perdamain itu menemui kebuntuan. Berikut proses perdamaian yang dilakukan dengan cara menyatukan dalam dalam dimensi oikumene baik dari pihak pemerintah maupun tokoh masyarakat dan agama.

Peran Pemerintah Dalam Penyelesaian Konflik

            Beberapa cara pemerintah membuat perdamaian salah satunya dengan mendatangkan banyak TNI-POLRI untuk mengatasi konflik tersebut namun bukannya membuat konflik berhenti malahan semakin parah dimana polisi dianggap juga membela satu pihak, sehingga terjadinya pembakaran asrama Brimob. Namun tepat pada tanggal 19-20 Desember 2001 diadakan pertemuan di Hotel Celebes, Malino Sulawesi Selatan.

            Proses perdamaian ini di mulai dari Pendeta A. Tobondo yang langsung menghubungi Jusuf Kalla selaku Menteri Koordinasi Kesejahteraan Masyarakat, SBY selaku Menteri Koordinasi Politik Hukum dan Keamanan dan menteri Pertahanan yaitu Abdul Jalil.[9] Permohonan ini langsung di responi oleh pemerintah dengan mengangkat Jusuf Kalla sebagai pemimpin dalam perdamaian di Poso. Proses perdamaian dimulai dengan Jusuf Kalla membuat pertemuan di Malino, Sulawesi Selatan dengan di ikuti oleh perwakilan Islam sebanyak 25 orang dan Kristen 25 orang serta Gubernur Sulawesi Selatan HZB Palaguna, Gubernur Sulawesi Tengah Aminudin Ponulele, Pangdam VII/ Wirabuana yaitu Mayjen Ahmad Yahya dan Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Zainal Abidin Ishak. Serta tokoh agama yang menjadi peninjau yakni perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yaitu Din Syamsudin, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) diwakili oleh pendeta Natan Setiabudi, J. Likuada dari KWI serta pemerintah pusat dari kantor Polkam ialah Mayjen Bambang Sutedjo dan perwakilan dari Mabes TNI adalah Mayjen Suwisma.[10] Upaya dilakukan dengan saling mengemukakan pendapat kedua bela pihak dan juga sekaligus mengusahakan terjadinya perdamaian. Dari pertemuan ini disepakati sepuluh poin dalam deklarasi Malino.

Berikut Kesepakatan deklarasi Perdamaian Malino: [11]

v  Menghentikan semua bentuk konflik dan perselisihan.

v Menaati semua bentuk dan upaya penegakan hukum dan mendukung pemberian sanksi hukum bagi siapa saja yang melanggar.

v Meminta aparat negara bertindak tegas dan adil untuk menjaga keamanan.

v Untuk menjaga terciptanya suasana damai, menolak memberlakukan keadaan darurat sipil, serta campur tangan pihak asing.

v Menghilangkan seluruh fitnah dan ketidakjujuran terhadap semua pihak dan menegakkan sikap saling menghormati dan memaafkan satu sama lain, demi terciptanya kerukunan hidup bersama.

v Tanah Poso adalah bagian integral dari Republik Indonesia. Karena itu, setiap warga negara memiliki hak hidup, datang, dan tinggal secara damai dan menghormati adat istiadat setempat.

v Semua hak-hak dan kepemilikan harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah, sebagaimana adanya sebelum konflik dan perselisihan berlangsung.

v Mengembalikan seluruh pengungsi ke tempat asal masing-masing.

v Bersama pemerintah melakukan rehabilitasi sarana dan prasarana ekonomi secara menyeluruh.

v Menjalankan syariat agama masing-masing dengan cara dan prinsip saling menghormati, dan menaati segala aturan yang telah disetujui, baik dalam bentuk undang-undang, maupun peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan lainnya.

 

Peran Tokoh Masyarakat dan Agama dalam Menyelesaikan Konflik

Konflik yang berkepanjangan membuat tokoh masyarakat dan agama selalu melakukan pertemuan dan selalu mengusahakan untuk terjadinya perdamaian, namun secara realita pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa karena perang terus berlangsung, malahan semakin banyak orang yang bergabung dan melibatkan diri mereka di dalam konflik.

Memang jelas tidak semudah membalikan tangan untuk mencapai perdamaian lewat tokoh masyarakat dan tokoh agama. Peran yang paling fenomenal dari kedua kelompok (tokoh masyarakat & agama) ini yaitu di desa Tangkura, dimana peran kedua kelompok ini dapat mengelola desa dengan baik. Di desa tersebut masyarakat tidak terprovokasi dan tidak terjadi konflik sehingga penduduk setempat tidak mengalami perang namun saling menjaga satu sama lain. Desa ini sangat kompak untuk melindungi satu sama lain baik dari pihak Islam atau Kristen. Bahkan untuk mencegah melebarnya konflik, desa Tangkura dan desa lain seperti Tokorondo dan Masani, dengan mangajak Kepala desa dan tokoh agama untuk bekerja sama mempertahankan wilayah dan menjauhkan segala macam pengaruh-pengaruh yang mengakibatkan konflik.[12]

Peranan ini diperlihatkan oleh kedua pihak baik dari tokoh masyarakat maupu agama sama-sama memberikan pengaruh dan doktrin yang baik untuk selalu menjaga perdamaian di Poso dan mereka selalu aktif untuk selalu memberikan pengertian untuk saling menghargai umat beragama dan perbedaan etnis budaya, walaupun memang tidak semua daerah di Poso dapat di terapkan oleh pihak tokoh masyarakat dan tokoh agama.

 

 

 

PENUTUP

A.    Simpulan

Jadi dari historis kerusuhan Poso, banyak memakan korban dan banyak menimbulkan kerugian yang besar, kisah kelam ini juga membuat trauma yang mendalam, namun dari segi akar konflik dapat dipahami bahwa akar membaranya konflik ini disebabkan oleh permasalahan politik namun karena sentimement-sentiment yang berbau agama membuat agama menjadi sasaran empuk dan agama memobilisasi perang berdarah tersebut.

Perjalanan kisruh yang terjadi di Poso di akhiri dengan perdamaian yang di sebut deklarasi malino dimana momen inilah kita dapat melihat dua sisi Oikumene yang mampu memperdamaikan masyarakat Poso baik dari sisi Oikumene Agama dan juga Oikumene NKRI. Dimana lewat Oikumene perdamaian terjadi dan masyarakat dapat hidup kembali dengan damai serta kembali memberikan udara segar bagi bangsa Indonesia dengan indahnya perdamaian sedangkan dari sisi agama, Okikumene menciptakan suatu rasa toleransi bagi umat beragama, sehingga lewat perdamaian Malino kedua bela pihak baik Islam dan Kristen sama-sama kembali bergotong royong dan kembali membangun poso dengan wujud toleransi antar umat beragama.

B.     Saran

Makalah ini menuliskan bagaimana historis tragedi kerusuhan Poso, jadi lewat makalah ini penulis memberikan saran kepada pembaca harus menyimak dengan baik dan untuk menambah wawasan beberapa referensi yang penulis paparkan dapat di cari dan di selidiki serta di pelajari agar tidak terdapat kesalahan dalam memahami makalah ini. Serta lewat makalah ini penulis memberi himbauan agar memiliki pemahaman yang luas akan toleransi akan agama, dan memahami bahwa hadirnya Oikumene bukan hanya untuk sepihak namun Oikumene adalah jembatan pemersatu bagi seluruh umat manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Aragon. Persaingan Elit di Sulawesi Tengah, dalam Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2007. Hal 89

[2] Winarti & Puspitasari, R. Pelajaran dari Kasus Konflik di Poso Sulawesi Tengah, dalam Prosiding International Seminar Social Movement Historical Perpective. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI. 2012. Hal 95

[3] Hasrullah. Dendam Konflik Poso. Jakarta: Gramedia. 2009. Hal 80

[4] Wahid, A.Y. dan Ihsan, B. SBY dan Resolusi Konflik: Langkah-langkah penyelesaian Konflik di Aceh, Atambua, Papua, Poso dan Sampit. Jakarta: Relawan Bangsa. 2004. Hal 188

[5] Firdaus M. Yunus: Konflik Agama Di Indonesia Problem Dan Solusi Pemecahannya. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Univesitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia. Substantia, Volume 16 Nomor 2, Okotber 2014. Hal 222

[6]  Wawancara 30 April 2021, 09.00 – 09.30 WIB

[7] Surahman Cinu. Agama,Meliterisasi Dan Konflik (Kasus Poso, Sulawesi Tenggah). Universitas Tadulako. AL-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 15, No. 1, Januari – Juni 2016.

[8] Wawancara 04 Mei 2021, 15.00 – 16.40 WIB

[9] Purwanto. Menggapai Damai di Poso. Jakarta: CBM Press, 2007. Hal 95

[10] Wahid dan Ihsan. SBY dan Resolusi Konflik: Langkah-langkah penyelesaian Konflik di Aceh, Atambua, Papua, Poso dan Sampit. Jakarta: Relawan Bangsa, 2004. Hal 203

[12] Igneus Alganih. Konflik Poso (Kajian Historis Tahun 1998-2001). Universitas Pendidikan Indonesia. Jurnal Criksetra, Vol 5, No 10, Agustus 2016, Hal 172-173

Continue reading PERANG BERNUANSA AGAMA DALAM KERUSUHAN POSO 1998-2000 SERTA DAMPAK OIKUMENE DALAM JALUR PERDAMAIAN

ANALISIS Roma 5:9 Dari STUDY KATA

 

Romans 5:9 Πολλῷ οὖν μᾶλλον, δικαιωθέντες νῦν ἐν τῷ αἵματι αὐτοῦ, σωθησόμεθα δι᾽ αὐτοῦ ἀπὸ τῆς ὀργῆς.

Yunani (BGT)

Parsing

Leksikal

Πολλῷ

k.sifat. datif, netral, tunggal

banyak

οὖν

Kata penghubung

sesuai dengan

μᾶλλον

Kata keterangan

Lebih

δικαιωθέντες

k.kerja.partisipal,aoris, passif, nominatif, maskulin

untuk membenarkan

νῦν

kata keterangan

Sekarang

ἐν

kata depan

didalam

τῷ

artikel

itu

αἵματι

kata benda, datif, netral, tunggal

darah

αὐτοῦ

kata ganti orang, genetif, maskulin, tunggal

dia laki-laki

σωθησόμεθα

kata kerja, indikatif, futur pasif, orang pertama, jamak

untuk menyelamatkan

Δι

kata depan

selesai, siap

αὐτοῦ

kata ganti orang, genetif, maskulin, tunggal

dia laki-laki

ἀπὸ

kata ganti

dari

τῆς

artikel

itu

ὀργῆς

kata benda, genetif, feminin, tunggal

kegusaran, kemarahan



Hasil Analisis Gramatikal

 

Oleh karena itu, kita yang telah diselamatkan, cukup melalui Dia (Yesus) dari kemurkaan itu untuk dibenarkan sekarang didalam darah Dia (Yesus)







Perbandingan

Versi

Arti

ASV

Much more then, being now justified by his blood, shall we be saved from the wrath of God through him

artinya kita sekarang telah dibenarkan oleh darah Dia, sehingga kita diselamatkan dari murka Allah

KJV

Much more then, being now justified by his blood, we shall be saved from wrath through him.

Artinya sekarang kita dibenarkan oleh darah Dia, dan sekarang kita diselamatkan dari murka Allah melalui Dia

NAS

Much more then, having now been justified by His blood, we shall be saved from the wrath of God through Him.

Artinya sekarang kita sudah dibenarkan oleh darah Dia, kita akan diselamatkan dari kemurkaan Allah melalui Dia

RSV

Since, therefore, we are now justified by his blood, much more shall we be saved by him from the wrath of God.

Sejak itu, kita sekarang dibenarkan oleh darah Dia. Lebih lebih lagi kita telah diselamatkan oleh Dia dari kemurkaan Allah

NIV

Since we have now been justified by his blood, how much more shall we be saved from God's wrath through him!

Sejak kita dibenarkan oleh darah Dia, terlebih lebih kita di selamatkan dari Murka Allah melalui DIa

BIS

Sekarang kita sudah berbaik kembali dengan Allah melalui kematian Kristus; karena itu pasti kita akan diselamatkan juga dari murka Allah oleh Kristus.

Ada perdamaian antara manusia dan Allah lewat kematian-Nya, dank arena itu kita dapat diselamatkan dari murka-Nya

ITB

Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.

Kita telah dibenarkan oleh darah-Nya sehingga kita pasti selamat dari murka Allah

 



 

Makna Teologis

Dalam Ayat ini ditekankan sebuah keselamatan. Dalam makna teologisnya ialah keselamatan itu adalah bagaimana manusia itu luput dari murka-Nya. Artinya sebenarnya Allah akan menjatuhkan murkanya kepada orang (yang melakukan dosa) namun murka tersebut tidak bersifat mutlak, ketidakmutlakan itulah yang disebut dengan keselamatan.[1]

 

Menurut Dr. Th. Van den End[2] keselamatan itu merupakan adalah hasil dari kematian Yesus sehingga memberikan jalan.

Menurut saya, makna teologis dari ayat ini ialah “Manusia diselamatkan oleh karena darah-Nya” artinya manusia menerima anugerah (darah Yesus) sehingga manusia itu pasti diselamatkan


Kesimpulan


Jadi, Roma 5:9 = Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Itu menjelaskan bahwa manusia itu dibenarkan lewat darah Yesus. Bahkan lewat darah-Nya manusia itu diselamatkan dari murka Allah

 

Continue reading ANALISIS Roma 5:9 Dari STUDY KATA